(Dewanagari: युधिष्ठिर; IAST: Yudhiṣṭhira) alias Dharmawangsa,
adalah salah satu tokoh protagonis dalam wiracarita Mahabharata. Ia merupakan seorang raja yang
memerintah kerajaan Kuru, dengan
pusat pemerintahan di Hastinapura. Ia merupakan yang tertua di antara
limaPandawa, atau para putra Pandu. Dalam tradisi pewayangan, Yudistira diberi gelar prabu dan memiliki julukan
Puntadewa, sedangkan kerajaannya disebut dengan nama Kerajaan Amarta.
Nama Yudistira dalam bahasa Sanskerta bermakna "teguh atau
kokoh dalam peperangan". Dalam kitab Mahabharata, ia juga
disebut dengan namaBharata[1] (keturunan Maharaja Bharata) dan Ajatasatru[2] Ia juga dikenal dengan
sebutan Dharmaraja, yang bermakna "raja Dharma", karena ia selalu berusaha
menegakkan dharma sepanjang
hidupnya.
Beberapa julukan lain yang dimiliki Yudhisthira
adalah Kururaja (कुरुराज, "pemuka bangsa Kuru"), Kurunandana (कुरुनन्दन, "kesayangan Dinasti Kuru"), Kurupati (कुरुपति, "rajaDinasti Kuru"), Pandawa (पान्दव, "putra Pandu"), Parta (पार्थ, "putra Prita atau Kunti").
Beberapa di antara nama-nama di atas juga dipakai oleh
tokoh-tokoh Dinasti Kuru lainnya, misalnyaArjuna, Bisma, dan Duryodana. Selain nama-nama di atas, dalam
versi pewayangan Jawa masih terdapat beberapa nama atau julukan yang lain lagi
untuk Yudistira, misalnya: Puntadewa ("derajat
keluhurannya setara para dewa"), Yudistira ("pandai
memerangi nafsu pribadi"), Gunatalikrama("pandai bertutur
bahasa"), Samiaji ("menghormati orang lain bagai
diri sendiri").
Kelahiran
Yudistira adalah putra tertua pasangan Pandu dan Kunti, raja dan ratu dari kalangan Dinasti Kuru, dengan pusat pemerintahan di Hastinapura. Kitab Mahabharata bagian pertama (Adiparwa) mengisahkan tentang kutukan yang
dialami Pandu setelah membunuh brahmana bernama ResiKindama tanpa sengaja. Brahmana itu
terkena panah Pandu ketika ia dan istrinya sedangbersanggama dalam wujud sepasang rusa. Menjelang ajalnya tiba, Resi
Kindama sempat mengutuk Pandu bahwa kelak ia akan mati ketika bersetubuh dengan
istrinya. Dengan penuh penyesalan, Pandu meninggalkan takhta Hastinapura dan memulai hidup sebagai
pertapa di hutan untuk mengurangi hawa nafsu. Kedua istrinya, yaitu Kunti dan Madri dengan setia mengikutinya.
Setelah lama tidak dikaruniai keturunan, Pandu mengutarakan niatnya untuk
memiliki anak. Kunti yang menguasai mantra Adityahredaya segera
mewujudkan keinginan suaminya. Mantra tersebut adalah ilmu pemanggil dewa untuk mendapatkan putera.
Dengan menggunakan mantra itu, Kunti berhasil mendatangkan Dewa Dharma dan mendapatkan anugerah putra
darinya tanpa melaluipersetubuhan. Putra pertama itu diberi nama
Yudistira. Dengan demikian, Yudistira menjadi putra sulung Pandu, sebagai hasil pemberian Dharma, yaitu dewa keadilan dan
kebijaksanaan.
Kisah dalam pewayangan Jawa agak berbeda. Menurut versi
ini, Puntadewa merupakan anak kandung Pandu yang lahir di istana Hastinapura. Kedatangan Bhatara Dharma hanya sekadar menolong
kelahiran Puntadewa dan memberi restu untuknya. Berkat bantuan dewa tersebut,
Puntadewa lahir melalui ubun-ubun Kunti. Dalam pewayangan Jawa, nama Puntadewa
lebih sering dipakai, sedangkan nama Yudistira baru digunakan setelah ia dewasa
dan menjadi raja. Versi ini melukiskan Puntadewa sebagai seorang manusia
berdarah putih, yang merupakan kiasan bahwa ia adalah sosok berhati suci dan
selalu menegakkan kebenaran.
Masa Muda dan Pendidikan
Yudistira dan keempat adiknya, yaitu Bima (Bimasena), Arjuna, Nakula, dan Sadewa kembali ke Hastinapura setelah ayah mereka (Pandu) meninggal dunia. Pada waktu itu,
Hastinapura dipimpin oleh Dretarastra, kakak Pandu yang buta.[3] Kelima putra Pandu—yang
terkenal dengan sebutan para Pandawa—membuat sepupu mereka, yaitu para
putra Dretarastra (seratus Korawa yang dipimpin Duryodana) merasa iri. Bisma (sesepuh Dinasti Kuru)
dan Widura (perdana menteri) lebih
menyukai Yudistira daripada putra Dretarastra, sehingga Duryodana merasa cemas
apabila Yudistira berhasil dinobatkan sebagai putra mahkota. Duryodana berusaha
menyingkirkan kelima Pandawa, terutama Bima yang dianggap paling kuat. Di lain
pihak, Yudistira selalu berusaha untuk menyabarkan Bima supaya tidak membalas
perbuatan para Korawa.
Pandawa dan Korawa kemudian mempelajari ilmu agama, hukum, dan tata negara daripada Resi Krepa. Dalam pendidikan tersebut,
Yudistira tampil sebagai murid yang paling pandai. Krepa sangat mendukung
apabila tahta Hastinapura diserahkan kepada Pandawa tertua itu. Setelah itu,
Pandawa dan Korawa berguru ilmu perang kepada Resi Drona. Dalam pendidikan kedua ini, Arjuna tampil sebagai murid yang
paling pandai, terutama dalam ilmu memanah. Sementara itu, Yudistira sendiri
lebih terampil dalam menggunakan senjata tombak.
Pembakaran Laksagraha
Selama Pandu hidup di hutan sampai akhirnya
meninggal dunia, tahta Hastinapura untuk sementara dipegang oleh
kakaknya, yaitu Dretarastra, ayah
para Korawa. Ketika Yudistira menginjak usia
dewasa, sudah tiba saatnya bagi Dretarastra untuk menyerahkan tahta kepada
Yudhisthira, selaku putra sulung Pandu sekaligus pangeran tertua di kalangan
Dinasti Kuru. Sementara itu, Duryodana berusaha keras merebut takhta
dan menyingkirkan Pandawa. Dengan
bantuan Sangkuni (paman
dari pihak ibu), Duryodana pura-pura menjamu kelima sepupunya itu dalam sebuah
gedung di Waranawata. Gedung itu sendiri terbuat dari bahan yang mudah
terbakar, dan oleh arsiteknya (Purocana) disebutLaksagraha, artinya
"Rumah Lilin". Ketika malam tiba, para Korawa membakar gedung tempat
para Pandawa dan Kunti, ibu mereka, tidur. Namun,
Yudistira sudah mempersiapkan diri karena rencana pembunuhan itu telah
terdengar oleh pamannya, yaitu Widura adik Pandu. Akibatnya, kelima
Pandawa dan Kunti berhasil lolos dari maut. Pandawa dan Kunti kemudian
menjalani berbagai pengalaman sulit.
Pernikahan
Setelah selamat dari konspirasi pembunuhan oleh Duryodana dan Sangkuni, para Pandawa dan Kunti pergi
melintasi kota Ekachakra, lalu tinggal sementara di kerajaan Panchala. Arjuna berhasil memenangkan sayembara di kerajaan tersebut dan
memperoleh seorang putri cantik yang bernama Dropadi. Tanpa sengaja Kunti memerintahkan
agar Dropadi dibagi lima. Akibatnya, Dropadi pun menjadi istri kelima Pandawa.
Dari perkawinan dengan Yudistira, Dropadi melahirkan Pratiwindya.[4] Istri keduanya bernama Dewika,
putri Gowasana dari suku Saibya, dan memiliki putra bernama Yodeya.[5]
Versi Jawa menyebut Dropadi dengan nama
"Drupadi". Menurut pewayangan Jawa, setelah memenangkan sayembara,
Arjuna menyerahkan putri itu kepada Puntadewa selaku kakak tertua. Semula
Puntadewa menolak, namun setelah didesak oleh ibu dan keempat adiknya, akhirnya
ia pun bersedia menikahi Drupadi. Dari perkawinan itu lahir seorang putra
bernama Pancawala. Jadi,
menurut versi asli, tokoh Dropadi menikah dengan kelima Pandawa, sedangkan menurut versiJawa, ia hanya
menikah dengan Yudistira seorang.
Yudistira (kiri)
mencakupkan tangan sambil menghadap Narada (kanan) yang berdiri di depan Kresna saat penyelenggaraan UpacaraRajasuya di Indraprastha.
Setelah menikahi Dropadi, para Pandawa kembali ke Hastinapura dan memperoleh sambutan luar
biasa, kecuali dari pihak Duryodana. Persaingan antara Pandawa dan
Korawa atas takhta Hastinapura kembali terjadi. Para sesepuh akhirnya sepakat
untuk memberi Pandawa sebagian dari wilayah kerajaan tersebut. Korawa mendapatkan
istana Hastinapura, sedangkan Pandawa mendapatkan hutan Kandawaprastha sebagai
tempat untuk membangun istana baru. Meskipun daerah tersebut sangat gersang dan
angker, namun para Pandawa bersedia menerima wilayah tersebut. Selain
wilayahnya yang seluas hampir setengah wilayah kerajaan Kuru, Kandawaprastha juga merupakan
ibukota kerajaan Kuru yang dulu, sebelum Hastinapura. Para Pandawa dibantu sepupu
mereka, yaitu Kresnadan Baladewa, dan berhasil membuka
Kandawaprastha menjadi pemukiman baru. Para Pandawa kemudian memperoleh bantuan
dariWiswakarma, yaitu ahli bangunan dari
kahyangan, dan juga Anggaraparna dari bangsa Gandharwa. Maka terciptalah sebuah istana
megah dan indah bernama Indraprastha, yang bermakna "kota Dewa
Indra".
Pemerintahan Yudistira Versi Pewayangan Jawa
Pembangunan Kerajaan Amarta
Dalam versi pewayangan Jawa, nama Indraprastha lebih terkenal dengan
sebutan kerajaan Amarta. Menurut
versi ini, hutan yang dibuka para Pandawa bukan bernama Kandawaprastha,
melainkan bernama Wanamarta.
Versi Jawa mengisahkan, setelah sayembara Dropadi, para Pandawa tidak kembali ke Hastinapura melainkan menujukerajaan Wirata, tempat kerabat mereka yang bernama
Prabu Matsyapati berkuasa. Matsyapati yang
bersimpati pada pengalaman Pandawa menyarankan agar mereka membuka kawasan
hutan tak bertuan bernama Wanamarta menjadi sebuah kerajaan baru. Hutan
Wanamarta dihuni oleh berbagai makhluk halus yang dipimpin oleh lima
bersaudara, bernama Yudistira, Danduncana, Suparta, Sapujagad, dan Sapulebu.
Pekerjaan Pandawa dalam membuka hutan tersebut mengalami banyak rintangan.
Akhirnya setelah melalui suatu percakapan, para makhluk halus merelakan
Wanamarta kepada para Pandawa.
Yudistira kemudian memindahkan istana Amarta dari
alam jin ke alam nyata untuk dihuni
para Pandawa. Setelah itu, ia dan keempat adiknya
menghilang. Salah satu versi menyebut kelimanya masing-masing menyatu ke dalam
diri lima Pandawa. Puntadewa kemudian menjadi Raja Amarta setelah didesak dan
dipaksa oleh keempat adiknya. Untuk mengenang dan menghormati raja jin yang
telah memberinya istana, Puntadewa pun memakai gelar Prabu Yudistira.
Anugerah Ketentraman
Setelah menjadi Raja Amarta, Puntadewa berusaha keras
untuk memakmurkan negaranya. Konon terdengar berita bahwa barang siapa yang
bisa menikahi puteri Kerajaan Slagahima yang bernama Dewi Kuntulwinanten, maka
negeri tempat ia tinggal akan menjadi makmur dan sejahtera. Puntadewa sendiri
telah memutuskan untuk memiliki seorang istri saja. Namun karena Dropadi mengizinkannya menikah lagi
demi kemakmuran negara, maka ia pun berangkat menuju Kerajaan Slagahima. Di
istana Slagahima telah berkumpul sekian banyak raja dan pangeran yang datang
melamar Kuntulwinanten. Namun sang puteri hanya sudi menikah dengan seseorang
yang berhati suci, dan ia menemukan kriteria itu dalam diri Puntadewa. Kemudian
Kuntulwinanten tiba-tiba musnah dan menyatu ke dalam diri Puntadewa. Sebenarnya
Kuntulwinanten bukan manusia asli, melainkan wujud penjelmaan anugerah dewata
untuk seorang raja adil yang hanya memikirkan kesejahteraan negaranya.
Sedangkan anak raja Slagahima yang asli bernama Tambakganggeng. Ia kemudian
mengabdi kepada Puntadewa dan diangkat sebagai patih di kerajaan Amarta.
Upacara Rajasuya
Kitab Mahabharata bagian kedua atau Sabhaparwa mengisahkan niat Yudistira
untuk menyelenggarakan upacaraRajasuya demi menyebarkan dharma dan menyingkirkan raja-raja
angkara murka. Bima, Arjuna, Nakula, dan Sadewamemimpin tentara masing-masing ke
empat penjuru Bharatawarsha (India
Kuno) untuk mengumpulkan upeti dalam penyelenggaraan upacara agung tersebut.
Pada saat yang sama, seorang raja angkara murka juga mengadakan upacara
mengorbankan seratus orang raja. Raja tersebut bernama Jarasanda dari kerajaan Magadha. Yudistira mengirim Bima dan Arjuna
dengan didampingi Kresna sebagai
penasihat untuk menumpas Jarasanda. Akhirnya, melalui sebuah pertandingan seru,
Bima berhasil membunuh Jarasanda.
Setelah semua persyaratan terpenuhi, Yudistira
melaksanakan upacara Rajasuya yang dihadiri sekian banyak kaum raja dan
pendeta. Dalam kesempatan itu, Yudistira ditetapkan sebagai Maharajadhiraja.
Kemudian muncul seorang sekutu Jarasanda bernama Sisupala yang menghina Kresna di depan
umum. Setelah melewati penghinaan ke-100, Krishna
akhirnya memenggal kepala Sisupala di depan umum.
Lukisan dari Punjab, dibuat sekitar abad ke-18, menggambarkan suasana aula permainan dadu antara Pandawadan Korawa. Tampak dalam gambar, Dropadi yang berusaha ditelanjangi oleh Dursasana. Di sebelah kiri
bawah, tampak kelima Pandawa sedang diam menerima kekalahannya.
Ketika menjadi tamu dalam acara Rajasuya, Duryodanasangat kagum sekaligus iri
menyaksikan keindahan istanaIndraprastha. Timbul niatnya untuk merebut
kerajaan itu, apalagi setelah ia tersinggung oleh ucapan Dropadi dalam sebuah pertemuan. Sangkuni membantu niat Duryodhana
dengan memanfaatkan kegemaran Yudistira terhadap permainan dadu. Yudistira memang seorang
ahli agama, namun di sisi lain ia sangat
menyukai permainan tersebut. Undangan Duryodana diterimanya dengan baik.
Permainan dadu antara Pandawa melawan Korawa diadakan di istanaHastinapura. Mula-mula Yudistira hanya bertaruh
kecil-kecilan. Namun semuanya jatuh ke tangan Duryodana berkat kepandaian
Sakuni dalam melempar dadu.
Hasutan Sangkuni membuat Yudistira nekad
mempertaruhkan semua hartanya, bahkan Indraprastha. Akhirnya, negeri yang dibangun
dengan susah payah itu pun jatuh ke tangan lawan. Yudistira yang sudah gelap
mata juga mempertaruhkan keempat adiknya secara berurutan. Keempatnya pun jatuh
pula ke tangan Duryodana satu per satu, bahkan akhirnya Yudistira sendiri.
Duryodana tetap memaksa Yudistira yang sudah kehilangan kemerdekaannya untuk
melanjutkan permainan, dengan mempertaruhkanDropadi. Akibatnya, Dropadi pun ikut
bernasib sama.
Ratapan Dropadi saat dipermalukan di depan umum
terdengar oleh Gandari, ibu
para Korawa. Ia memerintahkan agar Duryodana
menghentikan permainan dan mengembalikan semuanya kepada Pandawa. Dengan berat hati, Duryodhana
terpaksa mematuhi perintah ibunya itu. Duryodana yang kecewa kembali menantang
Yudistira beberapa waktu kemudian. Kali ini peraturannya diganti. Barang siapa
yang kalah harus menyerahkan negara beserta isinya, dan menjalani hidup di
hutan selama 12 tahun serta menyamar selama setahun di dalam sebuah kerajaan.
Apabila penyamaran itu terbongkar, maka wajib mengulangi lagi pembuangan selama
12 tahun dan menyamar setahun, begitulah seterusnya. Akhirnya berkat kelicikan
Sakuni, pihak Pandawa pun mengalami kekalahan untuk yang kedua kalinya. Sejak
saat itu lima Pandawa dan Dropadi menjalani masa pembuangan mereka di hutan.
Kehidupan Dalam Pembuangan
Kehidupan para Pandawa dan Dropadi dalam menjalani masa
pembuangan selama 12 tahun di hutan dikisahkan pada jilid ketiga kitab Mahabharata yang dikenal dengan
sebutan Wanaparwa. Yudistira
yang merasa paling bertanggung jawab atas apa yang menimpa keluarga dan
negaranya berusaha untuk tetap tabah dalam menjalani hukuman. Ia sering
berselisih paham dengan Bima yang ingin kembali ke Hastinapura untuk menumpas para Korawa. Meskipun demikian, Bima tetap
tunduk dan patuh terhadap perintah Yudistira supaya menjalani hukuman sesuai
perjanjian.
Suatu ketika para Korawa datang ke dalam hutan untuk
berpesta demi menyiksa perasaan para Pandawa. Namun, mereka justru berselisih
dengan kaum Gandharwa yang dipimpin Citrasena. Dalam peristiwa itu Duryodana tertangkap oleh Citrasena.
Akan tetapi, Yudistira justru mengirim Bima dan Arjuna untuk menolong
Duryodana. Ia mengancam akan berangkat sendiri apabila kedua adiknya itu
menolak perintah. Akhirnya kedua Pandawa itu berhasil membebaskan Duryodana.
Niat Duryodana datang ke hutan untuk menyiksa perasaan para Pandawa justru
berakhir dengan rasa malu luar biasa yang ia rasakan.
Peristiwa lain yang terjadi adalah penculikan Dropadi oleh Jayadrata, adik ipar Duryodana. Bima dan
Arjuna berhasil menangkap Jayadrata dan hampir saja membunuhnya. Yudistira
muncul dan memaafkan raja kerajaan Sindu tersebut.
Peristiwa Telaga Beracun
Pada suatu hari menjelang berakhirnya masa pembuangan,
Yudistira dan keempat adiknya membantu seorang brahmanayang kehilangan peralatan upacaranya
karena tersangkut pada tanduk seekor rusa liar. Dalam pengejaran
terhadap rusa itu, kelima Pandawa merasa haus. Yudistira pun
menyuruh Sadewa mencari
air minum. Karena lama tidak kembali, Nakuladisuruh menyusul, kemudian Arjuna, lalu akhirnya Bima menyusul pula. Yudistira semakin cemas karena
keempat adiknya tidak ada yang kembali.
Yudistira kemudian berangkat menyusul Pandawa dan
menjumpai mereka telah tewas di tepi sebuah telaga. Ada seekor bangau (baka)
yang mengaku sebagai pemilik telaga itu. Ia menceritakan bahwa keempat Pandawa
tewas keracunan air telaganya karena mereka menolak menjawab pertanyaan
darinya. Sambil menahan haus, Yudistira mempersilakan Sang bangau untuk
bertanya. Sang bangau lalu berubah wujud menjadi Yaksa. Satu per satu pertanyaan demi
pertanyaan berhasil ia jawab. Inilah sebagian pertanyaan yang diajukan Yaksa
pada Yudistira:
Yaksa: Apa yang lebih berat daripada Bumi, lebih luhur
daripada langit, lebih cepat daripada angin dan lebih berjumlah banyak daripada
gundukan jerami?
Yudhishthira: Sang Ibu lebih berat daripada Bumi, Sang
Ayah lebih luhur daripada langit, Pikiran lebih cepat daripada angin dan
kekhawatiran kita lebih berjumlah banyak daripada gundukan jerami.
Yaksa: Siapakah kawan dari seorang musafir? Siapakah
kawan dari seorang pesakitan dan seorang sekarat?
Yudhishthira: Kawan dari seorang musafir adalah
pendampingnya. Tabib adalah kawan seorang yang sakit dan kawan seorang sekarat
adalah amal.
Yaksa: Hal apakah yang jika ditinggalkan membuat
seseorang dicintai, bahagia dan kaya?
Yudhishthira: Keangkuhan, bila ditinggalkan membuat
seseorang dicintai. Hasrat, bila ditinggalkan membuat seseorang kaya dan
keserakahan, bila ditinggalkan membuat seseorang bahagia.
Yaksa: Musuh apakah yang tidak terlihat? Penyakit apa
yang tidak bisa disembuhkan? Manusia macam apa yang mulia dan hina?
Yudhishthira: Kemarahan adalah musuh yang tidak
terlihat. Ketidakpuasan adalah penyakit yang tidak bisa disembuhkan. Manusia
mulia adalah yang mengharapkan kebaikan untuk semua makhluk dan Manusia hina
adalah yang tidak mengenal pengampunan.
Yaksa: Siapakah yang benar-benar berbahagia? Apakah
keajaiban terbesar? Apa jalannya? Dan apa beritanya?
Yudhishthira: Seorang yang tidak punya hutang adalah
benar-benar berbahagia. Hari demi hari tak terhitung orang meninggal. Namun
yang masih hidup berharap untuk hidup selamanya. Ya Tuhan, keajaiban apa yang
lebih besar? Perbedaan pendapat membawa pada kesimpulan yang tidak pasti,
Antara Śruti saling
berbeda satu sama lain, bahkan tidak ada seorang Resi yang pemikirannya bisa
diterima oleh semua. Kebenaran Dharma dan tugas, tersembunyi dalam gua-gua hati
kita. Karena itu kesendirian adalah jalan dimana terdapat yang besar dan kecil.
Dunia yang dipenuhi kebodohan ini layaknya sebuah wajan. Matahari adalah
apinya, hari dan malam adalah bahan bakarnya. Bulan-bulan dan musim-musim merupakan
sendok kayunya. Waktu adalah Koki yang memasak semua makhluk dalam wajan itu
(dengan berbagai bantuan seperti itu). Inilah beritanya.
Akhirnya, Yaksa pun mengaku kalah, namun ia hanya
sanggup menghidupkan satu orang saja. Dalam hal ini, Yudistira memilih Nakula
untuk dihidupkan kembali. Yaksa heran karena Nakula adalah adik tiri, bukan
adik kandung. Yudistira menjawab bahwa dirinya harus berlaku adil. Ayahnya,
yaitu Pandu memiliki dua orang istri.
Karena Yudistira lahir dari Kunti, maka yang dipilihnya untuk hidup
kembali harus putra yang lahir dari Madri, yaitu Nakula. Yaksa terkesan pada
keadilan Yudistira. Ia pun kembali ke wujud aslinya, yaitu Dewa Dharma. Kedatangannya dengan menyamar
sebagai rusa liar dan yaksa adalah untuk memberikan ujian kepada para Pandawa.
Berkat keadilan dan ketulusan Yudistira, maka tidak hanya Nakula yang
dihidupkan kembali, melainkan juga Bima, Arjuna, dan Sadewa.[6]
Penyamaran Di Matsya
Setelah 12 tahun menjalani pembuangan di hutan,
kelima Pandawa dan Dropadi kemudian memasuki masa
penyamaran selama setahun. Sebagai tempat persembunyian, mereka memilih Kerajaan Matsya yang dipimpin oleh Wirata. Kisah ini terdapat dalam
kitab Mahabharata jilid
keempat atau Wirataparwa. Yudistira
menyamar dengan nama Kanka sebagai seorang brahmana yang mengajari Raja Wirata permainan dadu. Bima menjadi
Balawa sebagai tukang masak, Arjuna menjadi Wrihanala sebagai banci guru tari,
Nakula menjadi Damagranti sebagai tukang kuda, Sadewa menjadi Tantripala
sebagai penggembala sapi, sedangkan Dropadi menjadi Sailandri sebagai dayang
istana.[7]
Pada akhir tahun penyamaran Pandawa, terjadi peristiwa
serangan kerajaan Kuru terhadap
kekuasaan Wirata. Seluruh kekuatan kerajaan Matsya dikerahkan menghadapi
tentara kerajaan Trigartha, sekutu Duryodhana. Akibatnya, istana Matsya menjadi
kosong dan dalam keadaan terancam oleh serangan pasukan Hastinapura. Utara putra Wirata yang ditugasi menjaga istana,
berangkat ditemani Wrihanala (Arjuna) sebagai kusir. Di medan perang
Wrihanala membuka samaran dan tampil menghadapi pasukan Duryodana sebagai
Arjuna. Seorang diri ia berhasil memukul mundur pasukan dari Hastinapura
tersebut. Sementara itu, pasukan Wirata juga mendapat kemenangan atas pasukan
Trigartha. Wirata dengan bangga memuji-muji kehebatan Utara yang berhasil
mengalahkan para Korawa seorang
diri. Kanka alias Yudistira menjelaskan bahwa kunci kemenangan Utara adalah
Wrihanala. Hal itu membuat Wirata tersinggung dan memukul kepala Kanka sampai
berdarah.
Dalam versi pewayangan Jawa, Wirata adalah nama
kerajaan, bukan nama orang. Sedangkan rajanya bernamaMatsyapati. Dalam kerajaan tersebut, Yudistira
atau Puntadewa menyamar sebagai pengelola pasar ibu kota bernama Dwijakangka.
Saat batas waktu penyamaran telah genap setahun, kelima Pandawa dan Dropadi pun membuka penyamaran.
Mengetahui hal itu, Wirata merasa
sangat menyesal telah memperlakukan mereka dengan buruk. Ia pun berjanji akan
menjadi sekutu Pandawa dalam usaha mendapatkan kembali takhta Indraprastha.
Yudistira berunding
dengan Kresna tentang keputusan berperang melawan Korawa. Lukisan cat air dari Himachal Pradesh, kr. 1750–1800.
Ketika para Pandawa pulang ke Hastinapura demi menuntut hak yang
seharusnya mereka terima, Duryodana bersikap sinis terhadap
mereka. Ia tidak mau menyerahkan Hastinapura kepada Yudistira. Berbagai
usaha damai dilancarkan pihak Pandawa namun selalu ditolak oleh Duryodana. Bahkan, Duryodana tetap menolak
ketika Yudistira hanya meminta lima buah desa saja, bukan seluruh Indraprastha.
Pada puncaknya, Duryodana berusaha membunuh duta Pandawa, yaitu Kresna, namun gagal.
Perang di Kurukshetra antara Pandawa dan Korawa tidak dapat lagi dihindari. Para pujangga
Jawa menyebut peristiwa itu dengan namaBharatayuddha. Sementara itu dalam Mahabharata kisah perang besar tersebut
ditemukan pada jilid keenam sampai kesepuluh.
Saat berperang, kereta Yudistira dihiasi panji-panji
bergambar bulan emas yang dikitari planet-planet. Dua genderang yang diberi
nama Nanda dan Upananda diikat di tiangnya.[8][9][10]
Awal Pertempuran
Pada bagian Bhismaparwa dikisahkan bahwa sebelum
perang hari pertama dimulai, Yudistira turun dari keretanya berjalan kaki ke
arah pasukan Korawa yang berbaris di hadapannya. Duryodana mengejeknya sebagai
pengecut yang langsung menyerah begitu melihat kekuatan Korawa dan sekutu
mereka. Namun, kedatangan Yudistira bukan untuk menyerah, melainkan meminta doa
restu kepada empat sesepuh yang berperang di pihak lawan. Mereka adalah Bisma, Krepa,Drona, dan Salya. Keempatnya mendoakan semoga pihak
Pandawa menang. Hal itu tentu saja membuat Duryodana sakit hati.
Yudistira kembali ke pasukannya. Ia mempersilakan
siapa saja yang ingin pindah pasukan sebelum perang benar-benar dimulai.
Ternyata yang pindah justru adik tiri Duryodhana yang lahir dari selir,
bernama Yuyutsu, yang
bergerak meninggalkan Korawa untuk bergabung bersama Pandawa.
Pertempuran
Melawan Drona
Bisma memimpin pasukan Korawa selama sepuluh hari. Setelah
ia tumbang, kedudukannya digantikan oleh Drona, yang mendapat amanat dari Duryodana supaya menangkap Yudistira
hidup-hidup. Drona senang atas tugas tersebut, padahal niat Duryodana adalah
menjadikan Yudistira sebagai sandera untuk memaksa para pendukungnya menyerah.
Berbagai cara dilancarkan Drona untuk menangkap Yudistira. Tidak terhitung
banyaknya sekutu Pandawa yang tewas di tangan Drona karena melindungi
Yudistira, misalnya Drupada dan Wirata.
Akhirnya pada hari ke-15, penasihat Pandawa,
yaitu Kresna menemukan cara untuk
mengalahkan Drona, yaitu dengan mengumumkan berita kematian seekor gajah bernama Aswatama. Aswatama juga merupakan nama putra
tunggal Drona. Kemiripan nama tersebut dimanfaatkan oleh Kresna untuk menipu
Drona. Atas perintah Kresna, Bima segera membunuh gajah itu dan berteriak
mengumumkan kematiannya. Drona cemas mendengar berita kematian Aswatama. Ia
segera mendatangi Yudistira yang dianggapnya sebagai manusia paling jujur untuk
bertanya tentang kebenaran berita tersebut. Yudistira terpaksa bersikap tidak
jujur. Ia membenarkan berita kematian Aswatama tanpa berusaha menjelaskan bahwa
yang mati adalah gajah, bukan putra Drona. Jawaban Yudistira membuat Drona
jatuh lemas. Ia membuang semua senjatanya dan duduk bermeditasi. Tiba-tiba saja Drestadyumna putra Drupada mendatanginya dan kemudian
memenggal kepalanya dari belakang. Drona pun tewas
seketika. Dalam peristiwa ini yang paling merasa bersalah adalah Yudistira.
Salya adalah kakak ipar Pandu yang terpaksa membantu Korawakarena tipu daya mereka. Pada hari
ke-18, ia diangkat sebagai panglima oleh Duryodana. Akhirnya ia pun tewas terkena
tombak Yudistira.
Naskah Bharatayuddha berbahasa Jawa Kuno mengisahkan bahwaSalya memakai senjata bernama
Rudrarohastra, sedangkan Yudistira memakai senjata bernama Kalimahosaddha. Pusaka Yudistira yang berupa kitab
itu dilemparkannya dan tiba-tiba berubah menjadi tombak menembus dada Salya.
Sementara itu menurut versi pewayangan Jawa, Salya mengerahkan ilmu Candabirawa
berupa raksasa kerdil
mengerikan, yang jika dilukai jumlahnya justru bertambah banyak. Puntadewa maju
mengheningkan cipta. Candabirawa lumpuh seketika karena Puntadewa telah
dirasuki arwah Resi Bagaspati, yaitu pemilik asli ilmu tersebut.
Selanjutnya, Puntadewa melepaskan Jamus Kalimasada yang melesat
menghantam dada Salya. Salya pun tewas seketika.
Tantangan Bagi Duryodana
Setelah kehabisan pasukan, Duryodhana bersembunyi di dasar telaga.
Kelima Pandawa didampingi Kresna berhasil menemukan tempat itu.
Duryodana pun naik ke darat siap menghadapi kelima Pandawa sekaligus. Yudistira
menolak tantangan Duryodhana karena Pandawa pantang berbuat pengecut dengan
cara main keroyok, sebagaimana para Korawaketika membunuh Abimanyu pada hari ke-13. Sebaliknya,
Duryodana dipersilakan bertarung satu lawan satu melawan salah seorang di
antara lima Pandawa. Apabila ia kalah, maka kerajaan harus dikembalikan kepada
Pandawa. Sebaliknya apabila ia menang, Yudistira bersedia kembali hidup di
hutan.
Bima terkejut mendengar keputusan Yudistira yang
seolah-olah memberi kesempatan Duryodana untuk
berkuasa lagi, padahal kemenangan Pandawa tinggal selangkah saja. Dalam hal ini
Yudistira justru menyalahkan Bima yang dianggap kurang percaya diri. Duryodana
meskipun bersifat angkara murka namun ia juga seorang pemberani. Ia memilih
Bima sebagai lawan perang tanding, yang paling gagah di antara kelima Pandawa.
Setelah pertarungan sengit terjadi cukup lama, akhirnya menjelang senja
Duryodana berhasil dikalahkan dengan dipukul titik kelemahannya, yaitu paha.
Ini sekaligus menuntaskan sumpah Bima yang akan membunuh Duryodana karena
penghinaannya terhadap Dropadi. Balarama marah dan bertekad untuk membunuh Bima
karena paha merupakan sasaran yang terlarang dalam duel gada, namun
diperingatkan oleh Kresna bahwa Bima hanya berusaha menjalankan sumpahnya.
Duryodana pun tewas secara perlahan setelah saling bersilat lidah dengan
Kresna.
Maharaja Dunia
Setelah perang berakhir, Yudistira melaksanakan upacara
Tarpana untuk memuliakan mereka yang telah tewas. Ia kemudian diangkat sebagai
raja Hastinapura sekaligus
raja Indraprastha. Yudistira
dengan sabar menerima Dretarastrasebagai raja sepuh di
kota Hastinapura. Ia melarang adik-adiknya bersikap kasar dan menyinggung
perasaan ayah paraKorawa tersebut,
namun Bima selalu saja menyinggung Dretarastra akan perbuatan anak-anaknya
sehingga sang raja sepuh pun lengser dari takhta Hastinapura.
Yudistira kemudian menyelenggarakan Aswamedha Yadnya, yaitu suatu upacara pengorbanan
untuk menegakkan kembali aturan dharma di seluruh dunia. Pada upacara
ini, seekor kuda dilepas
untuk mengembara selama setahun. Arjunaditugasi memimpin pasukan untuk
mengikuti dan mengawal kuda tersebut. Para raja yang wilayah negaranya dilalui
oleh kuda tersebut harus memilih untuk mengikuti aturan Yudistira atau
diperangi. Arjuna mengirim pasukan ke daerah utara,
Bima ke timur, Nakula ke barat dan Sadewa ke selatan. Akhirnya setelah beberapa
pertempuran, semua kerajaan memilih membayar upeti. Sekali lagi Yudistira pun
dinobatkan sebagai Maharaja Dunia setelah Upacara Rajasuya dahulu.
Lukisan penjemputan
Yudistira dan anjingnya oleh Dewa Indra. Dari kitabMahabharata terbitan Gorakhpur Geeta Press.
Setelah permulaan zaman Kaliyuga dan wafatnya Kresna, Yudistira dan keempat adiknya
mengundurkan diri dari urusan duniawi. Mereka meninggalkan tahta kerajaan,
harta, dan sifat keterikatan untuk melakukan perjalanan terakhir,
mengelilingi Bharatawarsha lalu
menuju puncak Himalaya. Di kaki
gunung Himalaya, Yudistira menemukan anjing dan kemudian hewan tersebut menjdi
pendamping perjalanan Pandawa yang setia. Saat mendaki puncak, satu per satu
mulai dari Dropadi, Sadewa, Nakula, Arjuna, dan Bima meninggal dunia. Masing-masing terseret oleh
kesalahan dan dosa yang pernah mereka perbuat. Hanya Yudistira dan anjingnya
yang berhasil mencapai puncak gunung, karena kesucian hatinya.
Dewa Indra, pemimpin masyarakat kahyangan,
datang menjemput Yudistira untuk diajak naik ke swarga dengan kereta kencananya.
Namun, Indra menolak anjing yang dibawa Yudistira dengan alasan bahwa hewan
tersebut tidak suci dan tidak layak untuk masuk swarga. Yudistira menolak masuk
swargaloka apabila harus berpisah dengan anjingnya. Indra merasa heran karena
Yudistira tega meninggalkan saudara-saudaranya dan Dropadi tanpa mengadakan
upacara pembakaran jenazah bagi mereka, namun lebih memilih untuk tidak mau
meninggalkan seekor anjing. Yudistira menjawab bahwa bukan dirinya yang
meninggalkan mereka, tapi merekalah yang meninggalkan dirinya. Kesetiaan
Yudistira telah teruji. Anjingnya pun kembali ke wujud asli yaitu Dewa Yama atau batara dharma, ayahnya.[11]
Indra menunjukkan
keadaan neraka kepada Yudistira. Ilustrasi karya Eveyn Paul (1911).
Yudistira dan dewa dharma naik ke surga menggunakan
kereta Indra. Namun ternyata keempat Pandawa tidak ditemukan di sana. Yang ada
justru Duryodanadan adik-adiknya
yang selama hidup mengumbar angkara murka. Indra menjelaskan bahwa keempat
Pandawa dan para pahlawan lainnya sedang menjalani penyiksaan di neraka. Yudistira menyatakan siap masuk neraka
menemani mereka. Namun, ketika terpampang pemandangan neraka yang disertai
suara menyayat hati dan dihiasi darah kental membuatnya ngeri. Saat tergoda
untuk kabur dari neraka, Yudistira berhasil menguasai diri. Terdengar suara
saudara-saudaranya memanggil-manggil. Yudistira memutuskan untuk tinggal di
neraka. Ia merasa lebih baik hidup tersiksa bersama sudara-saudaranya yang baik
hati daripada bergembira di surga namun ditemani oleh kerabat yang jahat.
Tiba-tiba pemandangan berubah menjadi indah. Dewa Indra muncul dan berkata
bahwa sekali lagi Yudistira lulus ujian, karena waktunya yang sebentar di
Neraka adalah sebagai penebus dosa ketidakjujuran Yudistira terhadap Drona soal
kematian Aswatama. Ia menyatakan bahwa sejak saat itu, Pandawa Lima dan para
pahlawan lainnya dinyatakan sebagai penghuni Surga, sementara para Korawa akan
menjalani siksaan yang kekal di neraka.
Menurut versi pewayangan Jawa, kematian para Pandawa terjadi bersamaan dengan Kresna ketika mereka bermeditasi di dalam Candi Sekar. Namun, versi ini kurang begitu
populer karena banyak dalang yang
lebih suka mementaskan versi Mahabharata yang penuh dramatisasi
sebagaimana dikisahkan di atas.
Referensi
2. ^ Godbole, Justin E. Abbott a. Pandit Narhar R.
(1988).Stories of indian saints (4 ed.). Delhi: Motilal Banarsidass
Publ. p. 402. ISBN 9788120804692.
3. ^ Lochtefeld, James G. (2002). The
illustrated encyclopedia of Hinduism. (1st. ed. ed.). New York: Rosen.
pp. 194–196.ISBN 9780823931798.
4. ^ Kapoor, edited by Subodh (2004). An
introduction to epic philosophy : epic period, history, literature,
pantheon, philosophy, traditions, and mythology. New Delhi, India: Cosmo
Publications. p. 1062. ISBN 9788177558821.






Tidak ada komentar:
Posting Komentar